Zakat Dalam islam dan Al-Qur’an

0 107

Penulis : Ustad. Fadilah Hasan,SP.D
(Wakil Ketua Baznas Basel)

Bangka Belitung – Zakat menurut bahasa dan istilah mempunyai hubungan yang erat sekali, bahwa setiap harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjadi berkah, tumbuh, berkembang dan bertambah, suci dan baik. Zakat dapat membersihkan atau mensucikan pelakunya dari dosa dan menunjukkan kebenaran imannya, karenanya zakat merupakan rukun Islam yang ketiga.

Dikatakan oleh Fadilah Hasan bahwa Zakat fitrah juga dinamakan zakat badan. Makna zakat fitrah, yaitu zakat yang sebab diwajibkannya adalah berpuasa pada bulan Ramadhan.

Menurutnya, Adapun yang menjadi dasar pelaksanaan zakat fitrah adalah hadis Rasulullah SAW dari Ibnu Umar yang berbunyi “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah Mewajiban zakat fitrah dari ramadhan sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada hamba dan orang merdeka, laki-laki dan wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan kaum Muslimin”. (HR. Bukhari Muslim).

Selain kewajiban akan zakat fitrah hadits tersebut juga menyebutkan kadar dan jenis barang yang harus dikeluarkan adalah 1 sha’ = 4 mud, Sedangkan jenis harta yang dikeluarkan adalah sesuatu yang menjadi makanan pokok pada suatu negeri pada umumnya, baik berupa gandum, beras, kurma serta makanan-makanan lain yang menjadi makanan pokok dari sebuah negeri.

Sedangkan menurut Hanafi dapat diganti dengan uang yang senilai berat zakat fitrah (lihat PMA RI No. 52 Tahun 2014). Zakat fitrah diwajibkan atas setiap muslim yang memiliki persediaan makanan pokok melebihi keperluan dirinya sendiri dan keluarganya selama satu hari satu malam (diluar keperluannya akan tempat tinggal dan perabotannya serta pelayan dan sebagainya).

Ia menambahkan dalam Al-Qur’an puluhan kali perintah zakat digandengkan dengan perintah sholat. oleh karena itu sahabat Abu Bakar berkata demi Allah sungguh aku akan memerangi orang yg memisahkan sholat dan zakat. sholat dan zakat menempatkan manusia di posisi yg sebenarnya dekat Allah dekat dengan manusia. sholat memperkuat kesalehan spiritual dan zakat memperkuat kesalehan sosial.

Untuk diketahui penentuan berat zakat fitrah dengan beras. Zakat fitrah beras dengan berat 2,4 kg kemudian dibulatkan menjadi 2,5 kg itu merupakan hasil kompromi dari beberapa ukuran sho’ yang ada (1 mud = 6 ons). Menurut PMA RI Nomor 52 Tahun 2014, berat zakat fitrah 2,5 kg atau 3,5 liter perjiwa. Jika ada yang mengatakan zakat fitrah itu 2,7 kg (1 mud = 6,8 ons) kemudian dibulatkan menjadi 3 kg itu juga memiliki dasar.

Tidak boleh mengklaim bahwa berat ini lebih benar dari yang lain, kullun muhtamalun. Zakat Fitrah ditunaikan sebelun ditunaikannya shalat Id atau boleh dikeluarkan pada awal bulan Ramadhan. Maka jika zakat fitrah dikeluarkan setelah shalat Id, maka dihitung sebagai shadaqah biasa, dan belum menggugurkan kewajiban zakat fitrah.

Secara umum dan global, al-Quran menyatakan bahwa zakat diambil dari setiap harta yang kita miliki, seperti dikemukakan dalam QS. at-Taubah: 103 dan juga diambil dari setiap hasil usaha yang baik dan halal, seperti tergambar dalam QS.al-Baqarah: 267.

Ketika menafsirkan ayat tersebut (QS. at-Taubah: 103), Imam al-Qurthubi (wafat 671 H) mengemukakan bahwa zakat diambil dari semua harta yang dimiliki, meskipun kemudian sunnah Nabi mengemukakan rincian harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Hal yang sama dikemukakan oleh Imam ath-Thabari (wafat 310 H) dalam kitab Jaami’ al-Bayaan fi Takwil al-Quran.

Sedangkan Ahmad Mustafa al-Maraghi (wafat 1495 H) ketika menjelaskan firman Allah SWT QS. al-Baqarah: 267 menyatakan bahwa ayat ini merupakan perintah Allah SWT kepada orang-orang yang beriman untuk mengeluarkan zakat (infak) dari hasil usaha yang terbaik, baik yang berupa mata uang, barang dagangan, hewan ternak, maupun yang berbentuk tanaman, buah-buahan dan biji-bijian.

Sejalan dengan itu, Muhammad Sulaiman Abdullah Asqar menyatakan bahwa berzakat dan berinfak itu harus dari harta yang baik, terpilih dan halal. Zakat mal terdiri dari hewan ternak, emas dan perak, perdagangan hasil pertanian (tanaman dan buah-buahan), barang temuan, barang tamban, zakat penghasilan dari profesi, zakat perusahaan, zakat surat-surat berharga, zakat perdagangan mata uang, zakat hewan ternak yang diperdagangkan, zakat madu dan produk hewani, zakat investasi properti, zakat asuransi syariah dan lain-lain.

Mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kebutuhan pokok adalah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi, akan mengakibatkan kerusakan dan kesengsaraan dalam hidup di dunia maupun akhirat’Wallahu a’lam bis shawaab’. (*)

Slide Ads

logo
20220426_150049
IMG-20220501-WA0003
IMG-20220501-WA0007
20220501_154933
IMG-20220502-WA0003
IMG-20220502-WA0013(1)
logo 20220426_150049 IMG-20220501-WA0003 IMG-20220501-WA0007 20220501_154933 IMG-20220502-WA0003 IMG-20220502-WA0013(1)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

You cannot copy content of this page
error: Content is protected !!