Pengertian Framing: Cara Media Memanipulasi Informasi

0 14

Pangkalpinang, Babel.tintarakyat.com-FRAMING atau pembingkaian atas suatu peristiwa oleh media -biasanya punya tarif tertentu- dikhawatirkan jadi catatan hitam didalam dunia jurnalistik itu sendiri. Framing bukan saja merendahkan profesi mulia dari seorang pembawa kabar berita, yang konon menurut beberapa tetua dunia tulis menulis yang pernah ditemui : kedudukan seorang jurnalis atau wartawan adalah seperseribu dari tugas ke-Nabi-an. Yakni, membawa kebenaran. Bedanya memang jauh sekali tidak bisa serta merta disamakan. Jika Nabi membawa “informasi” kebenaran langsung dari Allah Ta’ala Tuhan Seru Sekalian Alam. Saat amanah itu diemban seorang wartawan, Ia bahkan mengambil resiko dengan mengumpulkan serpihan informasi berupa data, fakta dan wawancara langsung dari berbagai sumber. Untuk kemudian dirangkum dengan segenap ilmu yang dikuasainya menjadi narasi lengkap atas suatu peristiwa.

Tentu untaian paragraf yang disusun tadi harus melewati beberapa pintu ujian, diantaranya adalah kaidah jurnalistik yang benar serta berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik. Tidak boleh tidak, harus itu yang selamanya dipegang, manakala wartawan tadi sedang menjalankan peran seperseribu tugas Nabi tadi. Jika sekali saja tendensi pribadi ikut serta dalam dapur penulisan, dipastikan karya tulis yang dipublish oleh wartawan tadi secara tidak sadar dipenuhi aroma tudingan, teror terselubung, serta pada akhirnya akan terjadi “trial by press” pada seorang sumber berita yang apesnya malah terpaksa berperan sebagai korban.

Peristiwa seperti ini tidak hanya menimpa kalangan wartawan yang baru berkecimpung di jagat pemberitaan. Bahkan wartawan kawakan selevel tokoh pers nasional pun, jika rekeningnya sudah berisikan “intrik pesanan” dari bohir atau pihak yang diuntungkan dengan tersudutnya seseorang, dalam contoh yang sederhana misalnya ketika ada dugaan kasus korupsi yang diendus oleh instansi penegak hukum Kejaksaan. Dimana dalam keterangan pers yang dilakukan, seorang pejabat Kejaksaaan setingkat Kasipenkum seyogyianya pasti akan memberikan pernyataan general saja terkait suatu kasus yang naik ke tingkat penyidikan. Karena hal tersebut merupakan standard operasional prosedur dari bidang PPID suatu lembaga hukum. Dan kondisi seperti ini berlaku di belahan dunia manapun. Jika saja seorang pejabat Kejaksaan seperti Kasipenkum tadi dengan gegabah membuka semua hasil penyelidikan, ataupun penyidikan, maka yang terjadi di belakang hari adalah terbukanya celah hukum buat pengacara yang akan ditunjuk oleh si calon tersangka tadi. Tentu hal ini tidak akan diinginkan oleh institusi hukum manapun. Baik Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman.

Untuk itulah sebenarnya agak janggal ketika akhir-akhir ini ada satu atau dua media yang “berani” menjustifikasi status hukum seorang narasumber hanya berdasarkan analisis, yang dilakukan ketika wartawan tadi menulis berita sehabis menerima informasi lewat jumpa pers yang dilakukan. Sudah terlihat sebenarnya benang merah berita tadi atas “petunjuk” pihak mana.

Framing merupakan bagian dari strategi komunikasi media dan/atau komunikasi jurnalistik

Pengertian sederhananya adalah, framing merupakan susunan informasi atau kemasan informasi tentang suatu peristiwa dengan misi pembentukan opini atau menggiring persepsi publik terhadap sebuah peristiwa. Kategori benar atau salahnya urusan kesekian.

Framing berita merupakan perpanjangan dari teori agenda setting, yaitu pemilihan fakta dalam sebuah peristiwa yang dinilai penting disajikan dan dipikirkan pembaca (publik).

Framing tidak berbohong, tapi ia mencoba membelokkan fakta dengan halus melalui penyeleksian informasi, penonjolan aspek tertentu, pemilihan kata, bunyi, atau gambar, hingga meniadakan informasi yang seharusnya disampaikan

Framing bertujuan untuk membingkai sebuah informasi agar melahirkan: citra, kesan, makna tertentu yang diinginkan media, atau wacana yang akan ditangkap oleh khalayak.

Secara teoritis, framing adalah cara pandang yang digunakan wartawan atau media dalam menyeleksi isu dan menulis berita. Framing adalah bagaimana wartawan melaporkan sebuah peristiwa berdasarkan sudut pandangnya –ada fakta yang sengaja ditonjolkan, bahkan ada fakta yang dibuang.

Inti dari framing adalah bagaimana sebuah fakta ditonjolkan dan dikaburkan

Bagaimana Framing Bekerja

Penggunaan bingkai dalam produksi berita adalah konsekuensi logis (dan manusiawi) dari keterbatasan media menampilkan realita. Seorang jurnalis tidak mungkin bisa memindahkan seluruh sisi peristiwa yang baru saja diliputnya dan pasti membutuhkan sebuah angle atau sudut pandang. Dengan menonjolkan satu sisi dan menenggelamkan sisi lainnya, media menawarkan definisi dan interpretasi atas sebuah peristiwa.

Sebuah misal yang menurut penulis bisa dijadikan contoh kasus berlakunya sebuah framing adalah kasus dugaan korupsi bermoduskan fee proyek sebesar 20 % yang terjadi di lingkup OPD Pemprov Babel. Saat itu ada satu atau dua media yang terkesan menggiring narasi kearah salah satu saksi,yakni PLT Kadis. Entah apa motivasinya, yang pasti setiap ada sedikit saja proses hukum di Kejaksaan Tinggi Babel –pihak yang melakukan penyelidikan, penyidikan- otomatis dua media ini sifatnya saling sahut menyahut “membingkai” persepsi publik Babel, dengan finalisasi adalah divonisnya PLT Kadis tadi sebagai Tersangka Kasus Dugaan Gratifikasi Fee 20 % tersebut.

Kunci kalimatnya adlah pemilihan frasa : Mengingat proses pengusutan yang sudah naik status penyidikan, akankan pemeriksaan Jnt langsung diikuti dengan penetapan tersangka? Yang dimuat dalam paragraf kedua berita yang tayang di media tersebut.

Secara pribadi, penulis tidak ada kaitan sama sekali dengan kelindan kasus tersebut. Namun begitu, menyangkut tingkat sportifitas dalam dunia jurnalistik yang ada di Bangka Belitung. Maka ruang diskusi publik harus dibersihkan dari pikiran-pikiran anomali seperti tadi.

Diksi “akankah” tadi kalau dibaca ulang, apalagi oleh sesama wartawan. Maka senyum simpul penuh arti akan menyeringai dari mulut wartawan tadi. Kok bisa targetnya fokus si A? Kan fakta sesungguhnya, korupsi ini bergulung alias berjamaah dari tahun sebelumnya, tapi kenapa jurnalis “hebat” tadi ajukan pertanyaan yang menggiring narasumber berkomentar demi membidik si A, hal ini dilakukan tentu dengan meminjam mulut seorang petugas hukum. Dengan fakta yang sebenarnya, belum ada satupun statement resmi pihak Kejati Babel yang “menetapkan” PLT tadi sebagai tersangka. Jika penggiringan opini, ya jelas sudah berulangkali.

Jika anda tidak punya kepentingan apapun, muatlah berita seperti yang almarhum Udin tulis, atau seperti Miroslava Breach yang dibunuh secara brutal 2017 di negara bagian Chihuahua, Meksiko sebelah utara. Miroslava dibunuh karena memberitakan mengenai anggota geng lokal dan hubungan mereka dengan politisi.

Baik Udin dan Breach tidak hanya membingkai apa yang Ia “suka” atau mungkin apa yang “dipesan” Mereka berdua justru membingkai seluruh peristiwa sebenarnya. Sehingga baik kubu yang diuntungkan atau yang dirugikan dengan terbitnya berita tadi akan bersatu memusnahkan sebuah drone berlabel Udin dan Breach dari cakrawala. Nah itu baru benar ndro.

Sejatinya, jika memang benar-benar ingin turut serta memberantas korupsi. Mulailah dari lingkup terkecil kita. Bukankah semut kadang jelas terlihat, sementara mobil sampah parkir depan rumah malah kita tabrak dengan sukses?

Tidak ada manusia sempurna, semuanya pasti melakukan kesalahan ataupun kealpaan. Naif rasanya jika dengan menyitir kata-kata PK.Ojong lantas merasa kebal, sementara diri kita penuh lumuran perkara. Nanti kalau sponsornya timbul ke permukaan bagaimana? Mau ditaruh dimana mukanya? Atau memang sudah tidak punya muka lagi?

Jangan disangka publik tidak faham situasi yang terjadi. Malah sewaktu penulis tidak sengaja ngopi plus haha hihi di sebuah OPD. Ada tanggapan cerdas seorang ASN yang semeja dengan penulis. Dia bilang, kok berita media si A itu seperti dendam kesumat sama pLT ya? Malah menurutnya isi berita cuma tudingan saja. Penuh dendam kesumat.

“Harusnya kan ada pernyataan resmi petugas hukum yang menyatakan status plt tadi dalam bentuk penetapan tersangka, dalam berita korupsi. Ini saya lihat sih memang nargetin orang, kenapa ya? Sakit hati kayaknya,” celetuk ASN tadi.

Akhirul kalam, sebagai sesama pegiat pers ada baiknya kita saling menahan diri. Dan mampu melihat frame yang lebih luas lagi, kalau bahasa sunda bilang : try to see a big dream and learn how to do that. Karena, jika media sudah saling serang satu sama lain, akibatnya adalah ruang literasi publik terkena dampak polusi permusuhan dari open war yang sedang berkecamuk. Bukankah salah satu fungsi pers adalah to educate public? So, saran saya yang fakir ilmu ini, masing-masing kita nahan diri lah, jangan sampai target operasi para bohir sukses terlaksana karena mereka “paham” yang mana yang harus diberi logistik lebih. Kita memang butuh logistik, tapi saya pribadi jika harus mengorbankan kawan seprofesi ataupun karir seseorang, akan berpikir ulang layak tidaknya dilakukan. Demikian kira-kira.

(L.H)
Wartawan, tinggal di Jakarta

 

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Slide Ads

logo
20220426_150049
IMG-20220501-WA0003
IMG-20220501-WA0007
20220501_154933
IMG-20220502-WA0003
IMG-20220502-WA0013(1)
logo 20220426_150049 IMG-20220501-WA0003 IMG-20220501-WA0007 20220501_154933 IMG-20220502-WA0003 IMG-20220502-WA0013(1)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

You cannot copy content of this page
error: Content is protected !!